Selasa, 11 Juni 2013

Drama Sejarah : Detik-detik Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

9 Agustus 1945 Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta, selaku Ketua dan Wakil PPKI, serta Dr. Radjiman, mantan ketua BPUPKI, menuju Saigon.
Soekarno            : "Kita mendapat undangan Jenderal Terauchi, Panglima Tentara Selatan, untuk membicarakan persiapan kemerdekaan"
Hatta                  : "Baiklah kita harus segera berangkat"
10 Agustus 1945 Sementara itu di Indonesia, Sutan Syahrir mendengar kabar lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu. Berita tersebut pun menyebar.
Syahrir                : "Jepang telah menyerah kepada sekutu!"
Shodanco           : "Benarkah? Artinya kita harus bersiap-siap untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia"
Jusuf Kunto       : "Dan menolak segala bentuk “hadiah” kemerdekaan dari Jepang!"
12 Agustus 1945 Di Dalath (Saigon) Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman diterima oleh Jenderal Terauchi dalam suatu upacara sederhana.
Terauchi             : "Selamat datang di Saigon! Maaf memanggil kalian datang jauh-jauh ke tempat ini"
Soekarno            : "Kami menghargai undangan Anda. Lalu apa yang hendak Anda bicarakan pada kami mengenai kemerdekaan Indonesia?"
Terauchi             : “Pemerintah agung di Tokyo telah memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan mengenai pelaksanaan kemerdekaan terserah kepada PPKI”
Soekarno            : “Kami ingin kemerdekaan secepatnya."
Terauchi             : “Kami mengusulkan Indonesia merdeka pada tanggal 24 Agustus”
14 Agustus 1945 Rombongan Soekarno-Hatta tiba kembali di Jakarta. Ketika Hatta tiba di rumah, Sutan Syahrir sudah menunggu di sana untuk membicarakan soal kemerdekaan.
Syahrir                : "Bagaimana hasil pertemuan di Dalat?
Hatta                  : "Jepang memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan mengenai pelaksanaan kemerdekaan terserah kepada PPKI”
Syahrir                : "Itu artinya keputusan pelaksanaan kemerdekaan ada di tangan PPKI?"
Hatta                  : “Soal kemerdekaan semata-mata di tangan kita, hanya penyelenggaraannya diserahkan kepada PPKI”
Syahrir                : “Jepang telah meminta damai kepada sekutu. Oleh karena itu, pernyataan kemerdekaan jangan dilakukan oleh PPKI, sebab Indonesia merdeka yang lahir semacam itu akan dicap oleh sekutu sebagai buatan Jepang. Sebaiknya Bung Karno sendiri yang menyatakannya sebagai pemimpin rakyat atas nama rakyat dengan pernyataan corong radio”
Hatta                  : “Saya setuju. Kemerdekaan selekas-lekasnya, tetapi saya tidak yakin bahwa Bung Karno mau mengambil langkah bertindak sendiri mengumumkan proklamasi”
Selanjutnya Hatta dan Syahrir pergi ke tempat Ir. Soekarno untuk membicarakan masalah tersebut.
Syahrir                : "Bung harus memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia secara sendiri"
Soekarno            : “Saya tidak berhak bertindak, hak itu adalah hak dan tugas Panitia Persiapan Kemerdekaan yang saya menjadi ketuanya. Alangkah janggalnya di mata orang, setelah kesempatan terbuka untuk mengucapkan Kemerdekaan Indonesia saya bertindak sendiri melewati Panitia Persiapan Kemerdekaan yang saya ketuai”
15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda. Sutan Syahrir mendengar kabar tersebut melalui BBC.
Soekarno-Hatta disertai Mr. Soebardjo pergi mencari informasi mengenai kekalahan Jepang ke Genseikanbu (Kantor Pemerintahan Militer), tetapi di sana tidak ada pejabat yang dapat ditemui karena mereka dipanggil ke Genshireibu (Markas Panglima Tertinggi Tentara)
Soekarno            : "Tempat ini sepi. Tidak ada orang yang dapat kita mintai informasi tentang kekalahan Jepang"
Hatta                  : "Ya, tidak ada pejabat yang dapat ditemui"
Soebardjo           : "Bagaimana kalau Bung-Bung sekalian pergi ke rumah Laksamana Muda Maeda Tadashi, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut (Bukanfu), untuk mencari tahu tentang kebenaran kekalahan Jepang.
Atas usul Mr. Soebardjo, mereka pergi ke Jalan Imam Bonjol, rumah Maeda.
Maeda                : “Selamat atas keberhasilan pertemuan Anda sekalian di Dalat”
Soekarno            : “Terimakasih, tapi tujuan kami datang kemari bukan untuk hal itu. Kami ingin menanyakan benar-tidaknya berita yang menyiarkan bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu”
Maeda                : “Berita itu disiarkan oleh Sekutu dan saya belum memperoleh berita dari Tokyo, sebab itu saya menunggu instruksi dari Tokyo”
Soekarno            : "Betulkah? Kalau betul seperti itu kami mohon pamit. Terimakasih atas informasinya"
Sesudah meninggalkan tempat Laksamana Maeda, kedua tokoh nasionalis utama itu dapat memperoleh keyakinan bahwa Jepang sungguh-sungguh sudah menyerah.
Soekarno            : “Sepertinya benar adanya bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.”
Hatta                  : “Kita harus mengadakan rapat PPKI secepatnya”
Soekarno            : “Mr. Soebardjo, saya menyerahi tugas kepada Anda untuk mengatur rapat PPKI besok”
Soebardjo           : “Baik. Rapat akan dilangsungkan di Kantor Dewan Sainyo Kaigi di Pejambon, besok“
Sementara itu, pada saat menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, di Jakarta terdapat dua golongan yang berbeda dalam memandang tentang cara-cara memproklamasikan kemerdekaan yaitu Golongan Tua dan Golongan Muda. Golongan Tua diwakili oleh Soekarno-Hatta-Soebardjo dalam rencana memproklamasikan kemerdekaan memerlukan adanya rapat PPKI, sedangkan golongan Muda menghendaki untuk membebaskan diri dari PPKI yang dianggap bentukan Jepang.
Pukul 20.00 Golongan Muda mengadakan pertemuan di gedung Laboratorium Bakteriologi Jl. Pegangsaan Timur 16.
Sukarni               : "Kita tidak bisa berdiam diri seperti ini terus!"
Sayuti Melik       : "Ya, Benar! Kalau tidak, kita tidak akan bisa merdeka untuk selamanya!"
Syahrir                : "Kita harus menemui Bung Karno dan Bung Hatta untuk mendesak mereka agar mereka mau memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia!"
Pukul 22.00 Golongan Muda mendatangi Bung Karno di rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur 56.
Sukarni               : "Kami menuntut agar malam ini juga Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia melalui corong radio!"
Soekarno            : “Tidak bisa seperti itu. Jepang sudah mengambil keputusan untuk memerdekakan Indonesia, dan esok pagi tanggal 16 Agustus PPKI akan bersidang membicarakan kemerdekaan”
Hatta                  : “Ya, kita tidak bisa mendahului Proklamasi Kemerderkaan sebelum sidang bersama PPKI. Kita harus membicarakannya besok bersama anggota PPKI lainnya"
Syahrir                : “Itu tidak perlu karena akan menggambarkan bahwa Indonesia merdeka buatan Jepang!”
Sayuti Melik       : “Sebab itu malam ini juga Bung Karno sebagai pemimpin rakyat harus memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari genggaman Jepang”
Sukarni               : “Sebelum jam 22.00 penyataan itu mesti terjadi!”
Soekarno            : “Pendapat kita tidak dapat disesuaikan”
Hatta                  : “Sebaiknya untuk pertemuan kali ini kita bubarkan saja”
Para pemuda kemudian mengadakan pertemuan di Jl. Cikini 71, merundingkan langkah-langkah selanjutnya.
Sukarni               : "Sepertinya Bung Karno dan Bung Hatta mulai teracuni oleh Jepang"
Shodanco           : "Ya, mereka tidak berani mengambil keputusan sendiri dan segala hal menyangkut kemerdekaan harus melewati PPKI. Sedangkan PPKI sendiri adalah badan buatan Jepang!"
Sayuti Melik       : "Mereka adalah tokoh yang penting bagi kita. Tanpa mereka, Proklamasi kemerdekaan tidak akan terjadi!"
Shodanco                       : "Kita harus melakukan sesuatu agar Bung Karno dang Bung Hatta tidak semakin teracuni oleh Jepang"
Syahrir                : "Bawa Bung Karno dan Bung Hatta menyingkir ke luar kota di daerah tempat rakyta dan tentara (PETA) siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang timbul jika proklamasi sudah dinyatakan"
Sukarni               : "Baik. Subuh ini, rencana akan kita jalankan"
16 Agustus 1945 Kira-kira pukul 04.00, Para pemuda-pemuda menjemput Bung Karno dan Bung Hatta. Selanjutnya berangkatlah rombongan Bung Karno dan Bung Hatta disertai Ibu Fatmawati dibawa menuju Rengasdengklok.
Soekarno            : "Ada apa pemuda-pemuda datang kerumah saya subuh ini?"
Shodanco           : "Maaf Bung, Bung beserta isteri harus ikut dengan kami"
Soekarno            : "Akan pergi kemana?"
Subeno               : "Bung tak perlu tau. Mau atau tidak Bung harus ikut dengan kami. Kami akan memaksa Bung baik dengan kekerasan sekalipun"
Peristiwa dibawanya Soekarno-Hatta tersebut disampaikan Sudiro kepada Mr. Soebardjo.
Sudiro                : "Soekarno dan Hatta tidak berada di kota. Sepertinya mereka diculik!"
Soebardjo           : "Apa?! Benarkah begitu? Dimana mereka sekarang!"
Sudiro                : "Maaf, tapi saya tidak tahu. Sepertinya yang melakukan semua ini adalah para pemuda bawah tanah"
Soebardjo           : "Pemuda bawah tanah? Wikana! Ia pasti tau dimana Soekarno dan Hatta berada sekarang"
Sementara itu Soebardjo juga menghubungi Maeda untuk memperoleh dukungan dalam usaha pencarian Soekarno-Hatta.
Soebardjo           : "Saya mendapat kabar bahwa Soekarno dan Hatta diculik"
Maeda                : "Apa?! Bagaimana bisa? Siapa penculiknya? Apa anda tahu dimana mereka berada sekarang?"
Soebardjo           : "Tidak. Saya tidak tahu pasti siapa yang menyembunyikan mereka dan keberadaan mereka sekarang, tetapi saya meminta bantuan kepada anda jika mereka di sembunyikan oleh Angkatan Darat Jepang, maka tolong bebaskanlah mereka"
Maeda                : "Itu pasti akan saya lakukan"
Soebardjo           : "Saya meminta dukungan anda dalam usaha pencarian Soekarno-Hatta"
Maeda                : "Saya berjanji akan berusaha mencari sendiri dengan segala daya dimana Soekarno-Hatta berada"
Sementara itu di Rengasdengklok, saat Soekarno menemani isterinya Fatmawati menyulam bendera merah-putih, Ia diajak keluar untuk berbicara dengan Shodanco Singgih.
Shodanco           : "Mengapa Bung tak mau memproklamasikan Indonesia lebih cepat? Mengapa harus menunggu keputusan dari Jepang lebih dahulu?"
Soekarno            : "Bukan saya tak mau. Saya hanya tidak ingin semua terburu-buru. Memproklamasikan kemerdekaan tanpa persiapan akan menyebabkan pertumpahan darah lagi di Indonesia"
Shodanco           : "Tapi jika keadaannya sudah seperti ini bagaimana, Bung?"
Soekarno            : "Kalau memang semua sudah siap dan kita rencanakan. Saya bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia saat saya sekembali ke Jakarta"
Shodanco           : "Artinya Bung akan langsung mempersiapkan segala proklamasi kemerdekaan jika Bung kembali ke Jakarta?"
Soekarno            : "Ya, karena semua butuh persiapan"
Shodanco Singgih langsung mengabari hal ini pada pemuda bawah tanah. Pada siang hari Soebardjo bertemu dengan Wikana di kantornya. Awalnya Wikana tetap merahasiakan tempat Soekarno-Hatta disembunyikan, tetapi setelah Jusuf Kunto yang diutus untuk mengabari bahwa Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia jika ia kembali ke Jakarta datang, akhirnya Wikana bersama-sama dengan Jusuf Kunto memberitahu Soebardjo bahwa kedua pemimpin itu diamankan diluar kota.
Soebardjo           : "Tolong anda beritahu dimana Bung Karno dan Bung Hatta sekarang"
Wikana               : "Saya tidak tahu dimana mereka"
Soebardjo           : "Tak mungkin anda tak tahu"
Jusuf Kunto       : "Ada apa ini?"
Soebardjo           : "Tolong beritahu saya dimana Bung Karno dan Bung Hatta sekarang"
Jusuf Kunto       : "Anda tak perlu khawatir, Bung Karno dan Bung Hatta aman bersama kami. Bung Karno berkata ia akan memproklamasikan Indonesia jika ia kembali ke Jakarta."
Wikana               : "Kami sengaja mengasingkan mereka ke luar kota agar mereka terhindar dari penangkapan Angkatan Darat Jepang"
Soebardjo           : "Kalian juga tak perlu khawatir mengenai keselamatan Bung Karno dan Bung Hatta jika mereka kembali, karena saya percaya dapat mengandalkan dukungan Angkatan Laut andaikata mereka menemui kesulitan dari Angkatan Darat Jepang.
Wikana               : "Baiklah kalau memang begitu adanya. Kami sedikit merasa tenang"
Soebardjo           : "Jadi maukah Anda sekalian memberitahu saya dimana Soekarno-Hatta berada? Saya ingin menjemput mereka"
Wikana               : "Baiklah, Jusuf Kunto yang akan mengantar anda ke tempat Soekarno-Hatta berada sekarang"
Pukul 16.00 Soebardjo akan berangkat ke arah timur dengan ditemani Sudiro dan diantar Jusuf Kunto.
Pukul 18.00 Akhirnya mereka sampai di Asrama PETA Rengasdengklok. Soebardjo bertemu dengan Sukarni dan selanjutnya dihadapkan pada seorang Mayor PETA, Subeno.
Subeno               : "Apa maksud kedatangan Anda kemari?"
Soebardjo           : "Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk menjemput Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan"
Subeno               : "Apa jaminannya bahwa proklamasi kemerdekaan akan lebih cepat?"
Soebardjo           : "Proklamasi kemerdekaan paling lambat esoknya tengah hari. Apabila saya gagal, maka saya siap ditembak mati"
Subeno               : "Baiklah anda saya izinkan untuk bertemu mereka"
Soebardjo akhirnya dapat bertemu dengan Soekarno dan Hatta.
Soebardjo           : "Anda berdua harus segera kembali ke Jakarta. Dan anda harus bertemu dengan Laksamana Maeda"
Pukul 21.00 Rombongan sampai di Jakarta. Atas usul Soebardjo, Soekarno menelpon Maeda untuk meminjam rumahnya sebagai tempat rapat.
Soekarno            : "Terimakasih telah mengizinkan kami meminjam rumah anda untuk mengadakan rapat"
Maeda                : "Itu kewajiban saya yang mencintai Indonesia Merdeka"
21.30 Soekarno-Hatta berangkat ke rumah Mayor Jenderal Nishimura (Kepala Departemen Urusan Umum/Somubucho) disertai Maeda.
Soekarno            : "Kami ingin meneruskan rapat pagi tadi yang sempat tidak terlaksana mengenai persiapan kemerdekaan Indonesia"
Nishimura           : "Sekarang sudah lain keadaannya. Mulai pukul satu siang tadi kami tidak boleh lagi mengubah status quo. Pimpinan tentara Jepang sangat sedih bahwa apa yang dijanjikan terhadapn Indonesia Merdeka tidak dapat kami tolong menyelenggarakannya. Dari mulai tengah hari tadi tentara Jepang di Jawa tidak mempunyai kebebasan bergerak lagi. Ia semata-mata alat Sekutu dan harus menurut perintah Sekutu"
Soekarno            : "Pemerintah Tokyo sudah mengakui kemerdekaan Indonesia melalui perantaraan Jenderal Terauchi dan pelaksanaannya diserahkan kepada PPKI yang pada pukul 24.00 nanti akan memulai rapat di rumah Laksamana Maeda"
Nishimura           : "Apabila rapat itu berlangsung tadi pagi akan dibantu. Tetapi setelah tengah hari kami harus tunduk kepada pemerintah Sekutu dan tiap-tiap perubahan status quo tidak diperbolehkan. Jadi sekarang rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia terpaksa kami larang"
Perundingan dengan Nishimura menemui jalan buntu, akhirnya Soekarno-Hatta kembali kerumah Maeda dan memulai rapat PPKI. Rapat PPKI pun dimulai dan menghasilkan naskah Proklamasi.
Soekarno            : “Saya serta Bung Hatta dan Mr. Soebardjo mohon undur diri untuk menyusun naskah Proklamasi”
Soebardjo           : “Mohon untuk Sukarni dan Sayuti ikut dengan kami”
Sayuti Melik       : “Baik”
Diruangan tersebut, Soekarno-Hatta-Soebardjo menyusun naskah Proklamasi. Setelah selesai, Sayuti Melik yang mengetiknya. Selesai di ketik, hasil naskah Proklamasi dibacakan di hadapan para peserta rapat lainnya untuk disetujui. Namun, timbul masalah tentang siapa yang akan menandatangani naskah tersebut.
Syahrir                : “Siapa yang akan menandatangani naskah tersebut?”
Wikana               : “Bagaimana jika anda saja karena anda adalah pemimpin pemuda-pemuda Indonesia. Tanpa kegigihan anda dalam mendesak para golongan tua, mungkin hari ini tidak akan ada”
Syahrir                : “Saya tidak pantas untuk menandatanganinya”
Sukarni               : “Bagaimana jika Bung Karno dan Bung Hatta saja yang menandatangani atas nama Bangsa Indonesia?”
Shodanco           : “Usul yang bagus. Saya setuju. Apa semua setuju?”
Peserta Rapat     : “Ya, kami semua setuju”
Akhirnya naskah Proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama Bangsa Indonesia.

17 Agustus 1945 Pukul 10.00 Bung Karno didampingi Bung Hatta membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di halaman rumah kediaman Bung Karno dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar