Tampilkan postingan dengan label Naskah Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Drama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juni 2013

Drama Sejarah : Detik-detik Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

9 Agustus 1945 Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta, selaku Ketua dan Wakil PPKI, serta Dr. Radjiman, mantan ketua BPUPKI, menuju Saigon.
Soekarno            : "Kita mendapat undangan Jenderal Terauchi, Panglima Tentara Selatan, untuk membicarakan persiapan kemerdekaan"
Hatta                  : "Baiklah kita harus segera berangkat"
10 Agustus 1945 Sementara itu di Indonesia, Sutan Syahrir mendengar kabar lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu. Berita tersebut pun menyebar.
Syahrir                : "Jepang telah menyerah kepada sekutu!"
Shodanco           : "Benarkah? Artinya kita harus bersiap-siap untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia"
Jusuf Kunto       : "Dan menolak segala bentuk “hadiah” kemerdekaan dari Jepang!"
12 Agustus 1945 Di Dalath (Saigon) Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman diterima oleh Jenderal Terauchi dalam suatu upacara sederhana.
Terauchi             : "Selamat datang di Saigon! Maaf memanggil kalian datang jauh-jauh ke tempat ini"
Soekarno            : "Kami menghargai undangan Anda. Lalu apa yang hendak Anda bicarakan pada kami mengenai kemerdekaan Indonesia?"
Terauchi             : “Pemerintah agung di Tokyo telah memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan mengenai pelaksanaan kemerdekaan terserah kepada PPKI”
Soekarno            : “Kami ingin kemerdekaan secepatnya."
Terauchi             : “Kami mengusulkan Indonesia merdeka pada tanggal 24 Agustus”
14 Agustus 1945 Rombongan Soekarno-Hatta tiba kembali di Jakarta. Ketika Hatta tiba di rumah, Sutan Syahrir sudah menunggu di sana untuk membicarakan soal kemerdekaan.
Syahrir                : "Bagaimana hasil pertemuan di Dalat?
Hatta                  : "Jepang memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan mengenai pelaksanaan kemerdekaan terserah kepada PPKI”
Syahrir                : "Itu artinya keputusan pelaksanaan kemerdekaan ada di tangan PPKI?"
Hatta                  : “Soal kemerdekaan semata-mata di tangan kita, hanya penyelenggaraannya diserahkan kepada PPKI”
Syahrir                : “Jepang telah meminta damai kepada sekutu. Oleh karena itu, pernyataan kemerdekaan jangan dilakukan oleh PPKI, sebab Indonesia merdeka yang lahir semacam itu akan dicap oleh sekutu sebagai buatan Jepang. Sebaiknya Bung Karno sendiri yang menyatakannya sebagai pemimpin rakyat atas nama rakyat dengan pernyataan corong radio”
Hatta                  : “Saya setuju. Kemerdekaan selekas-lekasnya, tetapi saya tidak yakin bahwa Bung Karno mau mengambil langkah bertindak sendiri mengumumkan proklamasi”
Selanjutnya Hatta dan Syahrir pergi ke tempat Ir. Soekarno untuk membicarakan masalah tersebut.
Syahrir                : "Bung harus memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia secara sendiri"
Soekarno            : “Saya tidak berhak bertindak, hak itu adalah hak dan tugas Panitia Persiapan Kemerdekaan yang saya menjadi ketuanya. Alangkah janggalnya di mata orang, setelah kesempatan terbuka untuk mengucapkan Kemerdekaan Indonesia saya bertindak sendiri melewati Panitia Persiapan Kemerdekaan yang saya ketuai”
15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda. Sutan Syahrir mendengar kabar tersebut melalui BBC.
Soekarno-Hatta disertai Mr. Soebardjo pergi mencari informasi mengenai kekalahan Jepang ke Genseikanbu (Kantor Pemerintahan Militer), tetapi di sana tidak ada pejabat yang dapat ditemui karena mereka dipanggil ke Genshireibu (Markas Panglima Tertinggi Tentara)
Soekarno            : "Tempat ini sepi. Tidak ada orang yang dapat kita mintai informasi tentang kekalahan Jepang"
Hatta                  : "Ya, tidak ada pejabat yang dapat ditemui"
Soebardjo           : "Bagaimana kalau Bung-Bung sekalian pergi ke rumah Laksamana Muda Maeda Tadashi, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut (Bukanfu), untuk mencari tahu tentang kebenaran kekalahan Jepang.
Atas usul Mr. Soebardjo, mereka pergi ke Jalan Imam Bonjol, rumah Maeda.
Maeda                : “Selamat atas keberhasilan pertemuan Anda sekalian di Dalat”
Soekarno            : “Terimakasih, tapi tujuan kami datang kemari bukan untuk hal itu. Kami ingin menanyakan benar-tidaknya berita yang menyiarkan bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu”
Maeda                : “Berita itu disiarkan oleh Sekutu dan saya belum memperoleh berita dari Tokyo, sebab itu saya menunggu instruksi dari Tokyo”
Soekarno            : "Betulkah? Kalau betul seperti itu kami mohon pamit. Terimakasih atas informasinya"
Sesudah meninggalkan tempat Laksamana Maeda, kedua tokoh nasionalis utama itu dapat memperoleh keyakinan bahwa Jepang sungguh-sungguh sudah menyerah.
Soekarno            : “Sepertinya benar adanya bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.”
Hatta                  : “Kita harus mengadakan rapat PPKI secepatnya”
Soekarno            : “Mr. Soebardjo, saya menyerahi tugas kepada Anda untuk mengatur rapat PPKI besok”
Soebardjo           : “Baik. Rapat akan dilangsungkan di Kantor Dewan Sainyo Kaigi di Pejambon, besok“
Sementara itu, pada saat menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, di Jakarta terdapat dua golongan yang berbeda dalam memandang tentang cara-cara memproklamasikan kemerdekaan yaitu Golongan Tua dan Golongan Muda. Golongan Tua diwakili oleh Soekarno-Hatta-Soebardjo dalam rencana memproklamasikan kemerdekaan memerlukan adanya rapat PPKI, sedangkan golongan Muda menghendaki untuk membebaskan diri dari PPKI yang dianggap bentukan Jepang.
Pukul 20.00 Golongan Muda mengadakan pertemuan di gedung Laboratorium Bakteriologi Jl. Pegangsaan Timur 16.
Sukarni               : "Kita tidak bisa berdiam diri seperti ini terus!"
Sayuti Melik       : "Ya, Benar! Kalau tidak, kita tidak akan bisa merdeka untuk selamanya!"
Syahrir                : "Kita harus menemui Bung Karno dan Bung Hatta untuk mendesak mereka agar mereka mau memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia!"
Pukul 22.00 Golongan Muda mendatangi Bung Karno di rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur 56.
Sukarni               : "Kami menuntut agar malam ini juga Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia melalui corong radio!"
Soekarno            : “Tidak bisa seperti itu. Jepang sudah mengambil keputusan untuk memerdekakan Indonesia, dan esok pagi tanggal 16 Agustus PPKI akan bersidang membicarakan kemerdekaan”
Hatta                  : “Ya, kita tidak bisa mendahului Proklamasi Kemerderkaan sebelum sidang bersama PPKI. Kita harus membicarakannya besok bersama anggota PPKI lainnya"
Syahrir                : “Itu tidak perlu karena akan menggambarkan bahwa Indonesia merdeka buatan Jepang!”
Sayuti Melik       : “Sebab itu malam ini juga Bung Karno sebagai pemimpin rakyat harus memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari genggaman Jepang”
Sukarni               : “Sebelum jam 22.00 penyataan itu mesti terjadi!”
Soekarno            : “Pendapat kita tidak dapat disesuaikan”
Hatta                  : “Sebaiknya untuk pertemuan kali ini kita bubarkan saja”
Para pemuda kemudian mengadakan pertemuan di Jl. Cikini 71, merundingkan langkah-langkah selanjutnya.
Sukarni               : "Sepertinya Bung Karno dan Bung Hatta mulai teracuni oleh Jepang"
Shodanco           : "Ya, mereka tidak berani mengambil keputusan sendiri dan segala hal menyangkut kemerdekaan harus melewati PPKI. Sedangkan PPKI sendiri adalah badan buatan Jepang!"
Sayuti Melik       : "Mereka adalah tokoh yang penting bagi kita. Tanpa mereka, Proklamasi kemerdekaan tidak akan terjadi!"
Shodanco                       : "Kita harus melakukan sesuatu agar Bung Karno dang Bung Hatta tidak semakin teracuni oleh Jepang"
Syahrir                : "Bawa Bung Karno dan Bung Hatta menyingkir ke luar kota di daerah tempat rakyta dan tentara (PETA) siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang timbul jika proklamasi sudah dinyatakan"
Sukarni               : "Baik. Subuh ini, rencana akan kita jalankan"
16 Agustus 1945 Kira-kira pukul 04.00, Para pemuda-pemuda menjemput Bung Karno dan Bung Hatta. Selanjutnya berangkatlah rombongan Bung Karno dan Bung Hatta disertai Ibu Fatmawati dibawa menuju Rengasdengklok.
Soekarno            : "Ada apa pemuda-pemuda datang kerumah saya subuh ini?"
Shodanco           : "Maaf Bung, Bung beserta isteri harus ikut dengan kami"
Soekarno            : "Akan pergi kemana?"
Subeno               : "Bung tak perlu tau. Mau atau tidak Bung harus ikut dengan kami. Kami akan memaksa Bung baik dengan kekerasan sekalipun"
Peristiwa dibawanya Soekarno-Hatta tersebut disampaikan Sudiro kepada Mr. Soebardjo.
Sudiro                : "Soekarno dan Hatta tidak berada di kota. Sepertinya mereka diculik!"
Soebardjo           : "Apa?! Benarkah begitu? Dimana mereka sekarang!"
Sudiro                : "Maaf, tapi saya tidak tahu. Sepertinya yang melakukan semua ini adalah para pemuda bawah tanah"
Soebardjo           : "Pemuda bawah tanah? Wikana! Ia pasti tau dimana Soekarno dan Hatta berada sekarang"
Sementara itu Soebardjo juga menghubungi Maeda untuk memperoleh dukungan dalam usaha pencarian Soekarno-Hatta.
Soebardjo           : "Saya mendapat kabar bahwa Soekarno dan Hatta diculik"
Maeda                : "Apa?! Bagaimana bisa? Siapa penculiknya? Apa anda tahu dimana mereka berada sekarang?"
Soebardjo           : "Tidak. Saya tidak tahu pasti siapa yang menyembunyikan mereka dan keberadaan mereka sekarang, tetapi saya meminta bantuan kepada anda jika mereka di sembunyikan oleh Angkatan Darat Jepang, maka tolong bebaskanlah mereka"
Maeda                : "Itu pasti akan saya lakukan"
Soebardjo           : "Saya meminta dukungan anda dalam usaha pencarian Soekarno-Hatta"
Maeda                : "Saya berjanji akan berusaha mencari sendiri dengan segala daya dimana Soekarno-Hatta berada"
Sementara itu di Rengasdengklok, saat Soekarno menemani isterinya Fatmawati menyulam bendera merah-putih, Ia diajak keluar untuk berbicara dengan Shodanco Singgih.
Shodanco           : "Mengapa Bung tak mau memproklamasikan Indonesia lebih cepat? Mengapa harus menunggu keputusan dari Jepang lebih dahulu?"
Soekarno            : "Bukan saya tak mau. Saya hanya tidak ingin semua terburu-buru. Memproklamasikan kemerdekaan tanpa persiapan akan menyebabkan pertumpahan darah lagi di Indonesia"
Shodanco           : "Tapi jika keadaannya sudah seperti ini bagaimana, Bung?"
Soekarno            : "Kalau memang semua sudah siap dan kita rencanakan. Saya bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia saat saya sekembali ke Jakarta"
Shodanco           : "Artinya Bung akan langsung mempersiapkan segala proklamasi kemerdekaan jika Bung kembali ke Jakarta?"
Soekarno            : "Ya, karena semua butuh persiapan"
Shodanco Singgih langsung mengabari hal ini pada pemuda bawah tanah. Pada siang hari Soebardjo bertemu dengan Wikana di kantornya. Awalnya Wikana tetap merahasiakan tempat Soekarno-Hatta disembunyikan, tetapi setelah Jusuf Kunto yang diutus untuk mengabari bahwa Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia jika ia kembali ke Jakarta datang, akhirnya Wikana bersama-sama dengan Jusuf Kunto memberitahu Soebardjo bahwa kedua pemimpin itu diamankan diluar kota.
Soebardjo           : "Tolong anda beritahu dimana Bung Karno dan Bung Hatta sekarang"
Wikana               : "Saya tidak tahu dimana mereka"
Soebardjo           : "Tak mungkin anda tak tahu"
Jusuf Kunto       : "Ada apa ini?"
Soebardjo           : "Tolong beritahu saya dimana Bung Karno dan Bung Hatta sekarang"
Jusuf Kunto       : "Anda tak perlu khawatir, Bung Karno dan Bung Hatta aman bersama kami. Bung Karno berkata ia akan memproklamasikan Indonesia jika ia kembali ke Jakarta."
Wikana               : "Kami sengaja mengasingkan mereka ke luar kota agar mereka terhindar dari penangkapan Angkatan Darat Jepang"
Soebardjo           : "Kalian juga tak perlu khawatir mengenai keselamatan Bung Karno dan Bung Hatta jika mereka kembali, karena saya percaya dapat mengandalkan dukungan Angkatan Laut andaikata mereka menemui kesulitan dari Angkatan Darat Jepang.
Wikana               : "Baiklah kalau memang begitu adanya. Kami sedikit merasa tenang"
Soebardjo           : "Jadi maukah Anda sekalian memberitahu saya dimana Soekarno-Hatta berada? Saya ingin menjemput mereka"
Wikana               : "Baiklah, Jusuf Kunto yang akan mengantar anda ke tempat Soekarno-Hatta berada sekarang"
Pukul 16.00 Soebardjo akan berangkat ke arah timur dengan ditemani Sudiro dan diantar Jusuf Kunto.
Pukul 18.00 Akhirnya mereka sampai di Asrama PETA Rengasdengklok. Soebardjo bertemu dengan Sukarni dan selanjutnya dihadapkan pada seorang Mayor PETA, Subeno.
Subeno               : "Apa maksud kedatangan Anda kemari?"
Soebardjo           : "Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk menjemput Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan"
Subeno               : "Apa jaminannya bahwa proklamasi kemerdekaan akan lebih cepat?"
Soebardjo           : "Proklamasi kemerdekaan paling lambat esoknya tengah hari. Apabila saya gagal, maka saya siap ditembak mati"
Subeno               : "Baiklah anda saya izinkan untuk bertemu mereka"
Soebardjo akhirnya dapat bertemu dengan Soekarno dan Hatta.
Soebardjo           : "Anda berdua harus segera kembali ke Jakarta. Dan anda harus bertemu dengan Laksamana Maeda"
Pukul 21.00 Rombongan sampai di Jakarta. Atas usul Soebardjo, Soekarno menelpon Maeda untuk meminjam rumahnya sebagai tempat rapat.
Soekarno            : "Terimakasih telah mengizinkan kami meminjam rumah anda untuk mengadakan rapat"
Maeda                : "Itu kewajiban saya yang mencintai Indonesia Merdeka"
21.30 Soekarno-Hatta berangkat ke rumah Mayor Jenderal Nishimura (Kepala Departemen Urusan Umum/Somubucho) disertai Maeda.
Soekarno            : "Kami ingin meneruskan rapat pagi tadi yang sempat tidak terlaksana mengenai persiapan kemerdekaan Indonesia"
Nishimura           : "Sekarang sudah lain keadaannya. Mulai pukul satu siang tadi kami tidak boleh lagi mengubah status quo. Pimpinan tentara Jepang sangat sedih bahwa apa yang dijanjikan terhadapn Indonesia Merdeka tidak dapat kami tolong menyelenggarakannya. Dari mulai tengah hari tadi tentara Jepang di Jawa tidak mempunyai kebebasan bergerak lagi. Ia semata-mata alat Sekutu dan harus menurut perintah Sekutu"
Soekarno            : "Pemerintah Tokyo sudah mengakui kemerdekaan Indonesia melalui perantaraan Jenderal Terauchi dan pelaksanaannya diserahkan kepada PPKI yang pada pukul 24.00 nanti akan memulai rapat di rumah Laksamana Maeda"
Nishimura           : "Apabila rapat itu berlangsung tadi pagi akan dibantu. Tetapi setelah tengah hari kami harus tunduk kepada pemerintah Sekutu dan tiap-tiap perubahan status quo tidak diperbolehkan. Jadi sekarang rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia terpaksa kami larang"
Perundingan dengan Nishimura menemui jalan buntu, akhirnya Soekarno-Hatta kembali kerumah Maeda dan memulai rapat PPKI. Rapat PPKI pun dimulai dan menghasilkan naskah Proklamasi.
Soekarno            : “Saya serta Bung Hatta dan Mr. Soebardjo mohon undur diri untuk menyusun naskah Proklamasi”
Soebardjo           : “Mohon untuk Sukarni dan Sayuti ikut dengan kami”
Sayuti Melik       : “Baik”
Diruangan tersebut, Soekarno-Hatta-Soebardjo menyusun naskah Proklamasi. Setelah selesai, Sayuti Melik yang mengetiknya. Selesai di ketik, hasil naskah Proklamasi dibacakan di hadapan para peserta rapat lainnya untuk disetujui. Namun, timbul masalah tentang siapa yang akan menandatangani naskah tersebut.
Syahrir                : “Siapa yang akan menandatangani naskah tersebut?”
Wikana               : “Bagaimana jika anda saja karena anda adalah pemimpin pemuda-pemuda Indonesia. Tanpa kegigihan anda dalam mendesak para golongan tua, mungkin hari ini tidak akan ada”
Syahrir                : “Saya tidak pantas untuk menandatanganinya”
Sukarni               : “Bagaimana jika Bung Karno dan Bung Hatta saja yang menandatangani atas nama Bangsa Indonesia?”
Shodanco           : “Usul yang bagus. Saya setuju. Apa semua setuju?”
Peserta Rapat     : “Ya, kami semua setuju”
Akhirnya naskah Proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama Bangsa Indonesia.

17 Agustus 1945 Pukul 10.00 Bung Karno didampingi Bung Hatta membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di halaman rumah kediaman Bung Karno dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

Minggu, 06 Mei 2012

IMPIAN EVAN

(naskah drama untuk paskah)


PROLOG : Ini adalah sebuah kisah dari seorang anak manusia yang selalu percaya pada kuasa Tuhan. Ia memiliki sebuah impian. Impian yang begitu polos. Impian yang mustahil terwujud. Impian yang dengan mudahnya orang lain tertawakan dan sepelekan. Tapi itulah impiannya. Ia adalah satu dari sekian anak yang akan membuat hal tak mungkin menjadi mungkin.
Di bawah sebuah fly over, anak-anak pengamen, pengemis, dan anak dari kalangan tak mampu berkumpul disana. Mereka sedang belajar dengan seorang guru sukarelawan.
Pak Guru              : “Anak-anak, Bapak ingin bercerita sedikit. Kalian tahu mengapa Bapak menjadi guru?”
Anak-anak          : (duduk berjejer setengah lingkaran)
“Tidak, Pak”
Ira                           : “Memangnya kenapa, Pak?”
Pak Guru              : “Sejak dulu Bapak memiliki sebuah impian. Impian kecil yang perjuangannya cukup besar”
Galih                     : (melepas emutan permen)
“Wah, iya Pak? Apa impian Bapak?”
Pak Guru              : “Bapak tidak mau melihat anak yang tak bisa membaca atau menulis”
Roni                       : (heran)
“Ha? Cuma itu, Pak?”
Pak Guru              : (tersenyum)
“Iya, hanya itu. Impian yang begitu kecil bukan? Tapi perjuangannya memang tak mudah. Dan sekarang pun Bapak didepan kalian sedang berjuang. Dan sekarang giliran Bapak yang ingin tahu, apa impian kalian? Mulai dari kamu, Dimas”
Dimas                   : (terkejut dan mengarahkan telunjuk ke arah diri sendiri)
“Saya, Pak?”
(bangkit)
“Saya pengen jadi Pilot Pak! Supaya bisa jalan-jalan keliling dunia”
(membentangkan tangan dan berlari-lari berkeliling)
Roni                       : “Kalo saya maunya jadi orang kaya Pak! Biar gak disuruh ngemis-ngemis lagi”
                                (membuka telapak tangan)
“dan bisa beli sepatu yang bagus! Gak pake sendal jepit terus”
(menunjuk-nunjuk kakinya)
Pak Guru              : (menghentikan Dimas dengan menarik tangannya)
“Impian kamu hebat Dimas”
Dimas                   : (kembali duduk sambil tertawa-tawa)
Pak Guru              : Roni, tidak selamanya memliki segalanya akan menjamin kebahagianmu. Uang bukan lah segalanya di dunia ini”
Roni                       : (menggaruk-garuk kepala)
“Iya sih Pak. Tapi saya tetep maunya jadi orang kaya! Asal ada duit, saya seneng kok”
(menggesek-gesek antara jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya)
Ira                           : (memukul tangan Roni)
“Dasar pengemis matre! Kalau saya mau jadi Guru. Saya ingin seperti Bapak, mengajar anak-anak yang nasibnya sama seperti saya”
Roni                       : “Dasar gak kreatif! Ngikut-ngikut Pak Guru doang”
Ira                           : “Enak aja! Gue serius tauk!”
Pak Guru              : “Sudah, sudah jangan bertengkar. Ira, impian kamu bagus. Bapak bangga dengan kamu. Tapi kamu harus rajin belajar agar kamu bisa memiliki banyak ilmu yang dapat kamu bagikan ke orang lain. Lalu Galih, apa impian kamu?”
Galih                     : (sambil mengemut permen)
“Saya mau jadi tukang bakso Pak. Supaya bisa makan bakso tiap hari”
Anak-anak          : (tertawa)
Pak Guru              : “Galih, kamu ada-ada saja. Lalu Evan, apa impian mu? Bapak lihat sejak tadi kamu diam saja”
Evan                      : (bingung)
“Impian ya Pak? Apa ya Pak? Dokter mungkin? ”
Roni                       : “Serius apa lu bakal jadi Dokter? Yang ada pasiennya gak sembuh-sembuh kalo dokternya model lo”
Evan                      : “Enak aja lo!”
Pak Guru              : “Impian kamu bagus Evan. Tapi sepertinya kamu belum yakin. Kamu bisa memberikan alasannya pada Bapak?”
Evan                      : (geleng-geleng)
Pak Guru              : “Kamu harus serius mengejar impianmu. Kalau kamu sudah tau apa alasannya, beritahu Bapak ya?”
                                (menepuk pundak Evan)
Setelah sekolah, Evan pun pulang ke rumah.  Ia langsung menemui ibunya. Seperti biasanya, ia akan menceritakan semua yang ia alami dii sekolah terbuka pada ibunya.
Evan                      : “Ibu lagi bikin kue ya?”
                                (memangku tangan)
Ibu                         : (sibuk membuat kue)
“Iya, mau ibu jual ke pasar nanti sore. Nanti kamu bantu Ibu jualan keliling ya?”
Evan                      : (mengangguk)
“Bu, masa tadi Pak Guru nanya impian Evan”
Ibu                         : “Terus kamu jawab apa?”
Evan                      : “Evan bilang mau jadi dokter”
Ibu                         : (mengayunkan tangan)
“Ngaco kamu! Mana mungkin..”
Bu Tanti               : (datang panik dan tergesah-gesah)
“Bu, Bu, gawat Bu!”
Ibu                         : (bingung)
“Ada apa Bu Tanti?”
Evan                      : (bangkit dan bingung)
Bu Tanti               : “Suami Ibu, Pak Trisna kecelakaan! Katanya jatuh dari kontruksi bangunan pas kerja!”
Ibu                         : “APA?!”
                                (terjatuh)
                                “Ayah..”
                                (menangis histeris)
Evan                      : (memeluk Ibu)
Dua minggu setelah kematian Ayahnya, Evan sangat sedih. Namun, ibunya jauh lebih sedih. Tak mau makan, dan hanya duduk di kursi sambil menatap kosong ke depan. Evan semakin sedih melihat ibunya jatuh sakit.
Evan                      : “Bu, makanlah sedikit supaya Ibu tak sakit”
                                (menyodorkan mangkuk)
Ibu                         : (tak bergeming)
Evan                      : “Bu, Ibu tak boleh seperti ini. Ibu harus sehat”
                                (mengguncang pelan lengan ibu)
“Sebentar lagi Natal. Ibu harus sembuh. Kalau ibu sehat, kita bisa buat kue sama-sama seperi tahun lalu”
                                (sambil menangis dan menyuapi Ibu)
                                “Bu, Evan ga mau Natal sendirian. Ibu harus sehat dan nemenin Evan”
Semakin lama, kondisi Ibu semakin memburuk. Evan yang tak memilikii uang akhirnya berjualan kue keliling. Namun saat sedang berjualan, Evan bertemu dengan Pak Guru.
Evan                      : (duduk sambil menghitung uang)
Pak Guru              : (menghampiri Evan)
                                “Evan? Sedang apa kamu disini?”
Evan                      : (kaget)
                                “Pak Guru?”
                                (bingung)
“Saya… sedang jualan kue Pak”
Pak Guru              : “Kamu kemana saja selama ini? Sudah tiga minggu kamu tidak ikut sekolah. Ada apa memangnya?”
Evan                      : (menunduk)
“Sejak Ayah saya meninggal, Ibu saja jadi sakit-sakitan. Saya ga punya uang Pak. Makanya saya jualan untuk beli obat buat Ibu”
Pak Guru              : (berjongkok)
“Kenapa kamu tidak mengabari Bapak?”
Evan                      : “Maaf Pak. Saya memang sedih saat Ayah saya meninggal, tapi Ibu yang paling sedih sampai dia sakit. Dan melihat Ibu yang sakit-sakitan, saya yang paling sedih”
Pak Guru              : (menepuk-nepuk bahu Evan)
“Tabahlah Evan. Sekarang Tuhan sedang mengujimu”
Evan                      : “Iya, Pak”
Pak Guru              : (bangkit)
“Evan, kamu ingat? Waktu itu kamu pernah bilang bahwa kamu ingin menjadi dokter”
Evan                      : (bingung)
                                “Iya, Pak. Tapi itu mustahil Pak”
Pak Guru              : (berjalan-jalan sedikit)
“Mengapa mustahil? Kamu tahu pekerjaan seorang dokter? Mengobati orang sakit, bukan?”
(berhenti berjalan dan kembali berjongkok)
“Evan, percaya lah, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa membuktikannya, dengan cara mewujudkan impian mu”
Evan                      : (diam)
                                “Pak”
Pak Guru              : “Ya?”
Evan                      : “Mungkin sekarang saya bisa memberikan alasan kenapa saya ingin menjadi dokter”
Pak Guru              : “Benarkah? Apa itu?”
Evan                      : “Saya ingin menyembuhkan Ibu saya”
                                (bangkit)
                                “Pak, saya harus pulang kerumah. Terimakasih Pak”
                                (mencium tangan Pak Guru dan langsung pergi)
Evan pun berlari menuju rumahnya. Ia ingin secepatnya menemui Ibu nya dan mengatakan sesuatu pada Ibu nya.
Evan                      : “Bu, Evan pulang!”
                                (meletakkan nampan dan berlari menghampiri Ibu)
Ibu                         : (menengok dan tersenyum)
Evan                      : (berlutut disamping kursi Ibu)
“Bu, dulu Evan pernah bilang kan kalau Evan pengen jadi dokter? Ibu bilang gak mungkin. Tapi Evan yakin Evan bisa!”
                                (menggenggam tangan Ibu)
“Bu, Evan pasti akan jadi dokter. Evan bakal nyembuhin Ibu. Pokoknya Evan yang bakal ngerawat Ibu sampe Ibu sembuh. Ibu pasti sembuh! Ibu pasti sehat lagi”
                                (menunduk)
                                “Bu, Evan sayang Ibu. Percaya sama Evan. Evan pasti akan jadi dokter!”
Ibu                         : (tersenyum dan mengusap kepala Evan)
Evan mulai masuk ke sekolah umum berkat bantuan Pak Guru. Di pagi hari, Evan belajar di sekolah. Pulangnya, Evan berjualan kue untuk tambahan membeli obat Ibunya. Pak Guru selalu membantu Evan, mulai dari menyekolahkan Evan, membiayai hidup Evan dan juga Ibunya, serta membawa Ibunya ke rumah sakit. Evan adalah anak yang rajin dan pantang menyerah. Ia terus berusaha tanpa kenal lelah demi mencapai impiannya. Sepuluh tahun berlalu setelah janji Evan pada Ibunya.
MONOLOG :
Evan                      : “Hai, Bu. Apa kabar? Aku datang lebih cepat karena tak sabar ingin bertemu denganmu”
                                (tersenyum)
“Bu, lihat lah aku.  Pakaian ku rapih dan bersih. Tidak kumal, tidak robek, dan tidak bau.”
(mengusap bahu dan mengendus lengan baju)
“Bu, lihat lah aku. Rambut ku rapih. Tidak seperti dulu, kasar dan berantakan. Sekarang juga aku pakai sepatu. Tidak seperti dulu, hanya memakai sendal jepit”
(mengangkat sedikit sepatunya)
“Bu lihat lah aku. Aku memakai jas putih. Ibu tahu orang-orang seperti apa yang memakai jas putih? Ya, Dokter Bu”
                                (diam)
“Bu, sudah sepuluh tahun setelah janjiku untuk menjadi dokter. Aku tak pernah lupa janji itu. Karena Ibu adalah alasan mengapa aku bisa sampai disini sekarang. Aku ingat, dulu aku bercerita pada Ibu bahwa Pak Guru menanyakan apa impianku. Waktu itu aku hanya menjawab sekenanya. Ibu pun juga berkata tak mungkin. Tapi lihatlah siapa yang sekarang berdiri ini? Ini anak mu, Bu. Anak mu yang memakai jas putih ini”
(menepuk-nepuk ke arah dada)
“Bu, mungkin saat aku dewasa seperti sekarang, kata-kata ku pada mu memang terdengar lucu. Impian seorang anak miskin yang Ayahnya kuli bangunan dan meninggal saat kerja, lalu Ibu nya hanya seorang penjual kue keliling. Anak itu dengan polosnya berkata “Bu, Evan pasti akan jadi dokter. Evan bakal nyembuhin Ibu. Pokoknya Evan yang bakal ngerawat Ibu sampe Ibu sembuh”. Terdengar seperti “Aku ingin jadi dokter supaya bisa nyembuhin Ibu ku yang sakit”. Lucu bukan? Ibu juga pasti akan tertawa jika mengingat kata-kata ku yang polos itu. Tapi, Bu, kata-kata itu sudah menjadi alasan ku disini sekarang.
                                (berjongkok)
“Bu, lihat lah. Aku bawa bunga mawar untuk mu. Dulu Ibu bilang ingin memajang bunga mawar di meja. Namun karena aku tak punya uang, aku hanya mampu membuat bunga dari kertas yang kubuat bersama Ira, Dimas,Roni dan Galih saat ulang tahun mu.
                                (menangis)
“Bu, maafkan aku. Aku tak berhasil mencapai impianku. Aku tak bisa menjadi dokter yang merawat Ibu sampai Ibu sembuh. Maafkan aku, Bu. Aku tak bisa lebih cepat menjadi dokter dan menolongmu. Maafkan aku. Aku terlambat. Maaf, Bu”
                                (berhenti menangis)
“Bu, sekarang aku punya sebuah impian baru. Aku ingin menolong orang-orang yang bernasib sama dengan Ibu. Aku pasti akan membantu mereka. Lihat lah aku, Bu. Aku akan membayar janji ku yang tak tercapai padamu”
                                (meletakkan bunga mawar)
                                “Selamat tinggal, Bu. Evan sayang Ibu”


-end-

Minggu, 27 November 2011

DELIMA MERAH


Dahulu kala, disebuah istana hidup seorang Raja dengan dua anak gadisnya yang bernama si Sulung dan si Bungsu. Si Sulung dan si Bungsu sangat dekat. Mereka kakak-adik yang sangat harmonis. Suatu ketika, si Sulung diam-diam menemui kekasihnya di hutan.
Si Sulung                : (mengendap-endap dan waspada)
Panji                        : (datang dan menepuk pundak si Sulung)
"Kenapa engkau mengendap-endap?"
Si Sulung                : (terkejut)
"Oh kau. Aku kira siapa.. Aku takut jika ada bawahan ayahku sedang
berjaga di hutan ini"
Panji                        : "Sulung, sampai kapan kita akan mengumpat seperti ini? Tidakkah kau
berkeinginan untuk semua orang tahu tentang cinta kita?"
Si Sulung                : "Maaf Panji. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya takut jika ayahku
tahu"
Panji                        : "Lantas kenapa jika sang raja tahu? Bukankah itu hal yang sangat bagus?"
Si Sulung                : "Tidak, Panji. Tidak! Ayah sangat menjunjung kasta. Aku takut jika
ayahku tahu, maka ia tidak akan merestui hubungan kita!"
Panji                        : (terdiam)
Si Sulung                : "Maaf, Panji. Bersabarlah sedikit.. Demi cinta kita"
Panji                        : "Baiklah.. Demi kau, aku akan bersabar. Namun, ketahuilah bahwa suatu
saat nanti cepat ataupun lambat, raja pasti akan tahu"
Sementara si Sulung menemui kekasihnya, ternyata adiknya si Bungsu dari kejauhan mengumpat di balik pohon ingin mengetahui apa yang dilakukan kakaknya dihutan seperti ini bersama seorang lelaki.
Si Bungsu               : (mengumpat dibalik pohon)
"Sedang apa kakak ditengah hutan seperti ini bersama seorang pria? Apa
yang mereka perbincangkan ya? Tidak terdengar dari sini. Apa sebaiknya
aku mendekat?"
Saat si Bungsu mengumpat dibalik pohon, dibelakangnya terdapat Raksasa Merah yang sedang memperhatikan si Bungsu.
Raksasa Merah       : "Itu pasti anak dari raja itu! Lihat saja, aku akan membalaskan dendamku!
                                Hahahaha"
Sang Raksasa Merah pun hendak menculik si Bungsu.
Raksasa Merah       : (menarik tangan si Bungsu)
Si Bungsu               : (berteriak)
"Aaaa tolong! Tolong!"
Mendengar teriakan minta tolong, si Sulung dan Panji datang.
Si Sulung                : "Adik! Adiikk!!"
Panji                        : "Wahai raksasa jahat! Lepaskan gadis itu!"
Raksasa Merah       : "Hahahaha.. Tidak akan ku lepaskan. Katakan kepada sang raja aku akan
membalaskan dendamku padanya! Hahaha"
Si Bungsu pun dibawa pergi oleh Raksasa Merah. Si Sulung yang melihat adiknya diculik oleh Raksasa Merah, langsung menangis.
Si Sulung                : (menangis)
"Kenapa harus adikku? Kenapa tidak aku saja!"
Akhirnya si Sulung pun pulang ke istana dan menceritakan semuanya pada ayahnya.
Raja                        : "APA?! Bagaimana hal itu bisa terjadi?"
(berdiri)
Si Sulung                : (berlutut)
"Maafkan aku ayah.. Aku tidak bisa menjaga adik dengan baik. Maafkan
aku!"
Raja                                    : "Raksasa itu! Aku akan membunuhnya!"
(mengepal tangan)
Si Sulung                : (menarik-narik kaki ayah)
"Jangan ayah, jangan! Usia ayah sudah tak muda lagi. Rakyat pun masih
membutuhkan ayah. Kumohon jangan ayah"
Raja                                    : "Tapi bagaimana dengan adikmu? Aku adalah ayah kalian. Bagaimana
seorang ayah bisa tenang jika anaknya sedang berada dalam bahaya?!"
Panji                        : (datang)
"Aku yang akan menyelamatkan anakmu"
Raja                                    : "Siapa kau?"
Si Sulung                : (tergagap)
"Ap-apa yang kau lakukan?!"
Panji                        : "Aku Panji dari Waisya. Maaf kan aku Raja. Ini semua karenaku. Andai
saat dihutan itu aku lebih cepat mengalahkan raksasa itu. Pasti anakmu akan
terselamatkan"
Raja                                    : "Bagaimana kau seorang pedagang bisa mengalahkan Raksasa Merah itu?"
Panji                        : "Aku pasti bisa mengalahkan raksasa jahat itu. Maka izinkanlah aku Raja"
(berlutut)
Akhirnya sang Raja pun mengizinkan Panji untuk menyelamatkan anaknya dari Raksasa Merah. Sementara itu di Goa, Si Bungsu di kurung oleh Raksasa Merah.
Si Bungsu               : (menangis)
"Wahai engkau Raksasa. Mengapa engkau menculikku? Ada dendam apa
engkau terhadap ayahku?"
Raksasa Merah       : "Ayahmu telah membunuh anakku! Maka dari itu aku akan membalaskan
dendamku padanya"
Si Bungsu               : "Wahai raksasa, janganlah engkau saling berdendam. Karena kedengkian
dan dendam tidak akan ada habisnya. Hal itu juga akan menyesatkan
engkau"
Raksasa Merah       : (bangkit)
"Aku tidak perduli! Semua karena ulah Raja! Ayahmu!"
Si Bungsu               : "Wahai Raksasa, dendam itu bukanlah hal yang baik. Bertaubatlah engkau
dan lupakan semua kebencian dalam hatimu"
Raksasa Merah       : "Diam kau!"
(mengayunkan tangan)
Panji                        : (datang)
"Hentikan! Hei kau raksasa jahat, lawanmu bukanlah gadis itu, tapi aku!"
Raksasa Merah       : "Dasar kau pengganggu!"
Akhirnya terjadi pertempuran sengit antara Panji dan Raksasa Merah. Raksasa Merah pun berhasil dikalahkan oleh Panji dengan mengambil satu bola mata sang Raksasa. Panji langsung menyelamatkan si Bungsu.
Panji                        : (menarik tangan si Bungsu)
"Cepat pergi dari sini. Sebelum raksasa itu mengejar kita!"
Melihat kegagahan Panji, si Bungsu jatuh cinta pada Panji. Saat sekembalinya ke istana, si Bungsu menceritakan semua hal kepada kakaknya.
Si Sulung                : (berpelukan)
"Syukurlah kau selamat, dik"
Si Bungsu               : "Iya kak. Kak, kau tahu? Sepertinya aku telah menemukan lelaki yang
kucari selama ini"
(melepas pelukan)
Si Sulung                : "Benarkah? Siapa lelaki itu?"
Si Bungsu               : "Ia adalah lelaki yang sangat gagah perkasa"
Si Sulung                : "Siapa dia?"
Si Bungsu               : "Siapa lagi jika bukan ksatria yang telah menyelamatkan ku dari raksasa
jahat"
Si Sulung                : (kaget)
"Maksudmu.. Panji?"
Si Bungsu               : "iya kak! Aku akan memberitahukan hal ini pada ayah"
(pergi)
Si Sulung                : (terjatuh dan menangis)
"Wahai dewa-dewa dari khayangan. Apa dosa ku pada engkau sekalian?
Mengapa engkau tak mentakdirkan cintaku dengan Panji? Mengapa engkau
rebut ia? Dan mengapa yang merebut harus adik ku? Wahai dewa, apa
engkau belum puas melihatku seperti ini"
Si Sulung yang mengetahui hal itu sangat terpukul. Ia sangat merasa sakit ketika mengetahui adiknya mencintai orang yang ia cintai sejak lama. Hari demi hari berlalu. Si Sulung hanya mengurung diri di kamar. Tak mau bertemu siapapun. Bertemu Panji, bertemu adiknya, bahkan bertemu ayahnya pun ia enggan. Ia hanya berkata pada semua orang bahwa ia sedang sakit dan tidak mau ada yang melihat kondisinya, kecuali dayangnya.
Si Bungsu               : (mengetuk kamar si Sulung)
"Kak, aku membawakan makan siang untukmu"
Si Sulung                : "Taruhlah saja di depan pintu"
Si Bungsu               : (meletakkan makanan)
"Kak, aku ingin memberi kabar padamu. Besok, ayah akan mengumumkan
pernikahanku dengan Panji. Ini memang terlalu mendadak. Aku juga baru
tahu hari ini. Panji pun sampai sekarang mungkin belum tahu. Aku harap
esok kakak sudah sembuh dan akan hadir"
Si Sulung                : (diam)
Si Bungsu               : (bangkit)
"Baiklah aku pergi dulu"
Si Sulung                : (menangis)
"Lebih baik tubuhku semakin sakit agar tidak dapat menyaksikan hal itu.
Dibanding hatiku yang sakit jika harus menyaksikan hal itu. Wahai Dewa,
apa memang ini kemauan engkau? Jikalah memang iya, maka aku akan
ikhlas. Adik ku memang lebih pantas bahagia. Aku memohon satu hal
padamu wahai Dewa. Redupkan lah cinta ini dan kuatkanlah hatiku"
(menunduk)
Hari pernikahan pun tiba. Saat semua orang hendak bersiap, si Sulung akhirnya mau keluar dari kamar. Saat orang-orang istana tengah sibuk bersiap-siap, si Sulung berjalan-jalan ke taman. Sedang asyik duduk di taman sambil menikmati bunga-bunga yang indah, Panji pun datang.
Panji                        : "Sulung.. Kemana saja kau selama ini? Aku mencarimu!"
(menggenggam tangan Sulung)
Si Sulung                : (menepis genggaman Panji)
"Kau tak seharusnya mencariku lagi. Sebentar lagi kau akan menjadi adik
iparku"
Panji                        : "Sulung, aku mencintaimu! Ku mohon, tolong percaya padaku. Kau masih
tetap mencintaiku kan? Kita bisa bilang pada semua orang di kerajaan ini
dan pernikahan itu pun pasti akan batal!"
Si Sulung                : (berdiri)
"Tidak bisa! Jangan lakukan itu! Lalu bagaimana dengan perasaan adikku?
Kau mau mencampaka ...."
Panji                        : (menarik kedua tangan Sulung)
"Lalu bagaimana dengan perasaanku! Perasaanmu! Kau mau
mengabaikannya?"
Si Sulung                : (melepas genggaman Panji)
"Maaf Panji. Cinta kita sudah berakhir. Sebentar lagi kau akan menikah dan
kau akan menjadi adik ipar ku. Jadi kumohon.. Buanglah cerita kita,
hapuslah cinta kita. Anggap itu tak pernah terjadi. Aku tidak mau melukai
perasaan adikku"
Si Bungsu               : (datang sambil menangis)
"Jadi... Benar semua ini? Kakak.. Apa benar kau.. Dengan Panji ... Mengapa
kau tidak bilang padaku! Mengapa tidak ada yang menceritakan semua ini
padaku! Kebohongan apa yang telah kalian buat!"
Si Sulung                : "Dik, dengarlah penjelasan kakak dulu..."
Si Bungsu               : "Apa lagi yang perlu didengar?! Aku tak butuh belas kasihanmu!"
(berlari pergi)
Saat si Bungsu berlari, muncullah sang Raksasa Merah. Ia hendak membunuh si Bungsu. Si Bungsu pun terluka akibat terjatuh karena dilempar oleh raksasa Merah.
Si Bungsu               : "Aaaaa toloooonngg! Toloooonngg!!"
Si Sulung dan Panji: (berlari menghampiri si Bungsu)
Si Sulung                : (menghampiri si Bungsu)
"Kau tak apa dik? Tanganmu terluka! Cepat kita menyingkir dari sini"
Raksasa Merah       : (geram)
"Hei kalian! Dasar manusia hina! Kembalikan bola mataku!"
Panji                        : "Hei kau raksasa! Tak puas-puas juga kau mencari mati. Kali ini aku tak
akan segan-segan membunuhmu!"
Akhirnya terjadilah pertempuran sengit antara sang raksasa Merah dan Panji. Raksasa yang hanya memiliki satu bola mata akhirnya dapat dikalahkan oleh Panji. Panji pun langsung berlari menghampiri si Bungsu.
Panji                        : (sambil membuang pedang)
"Kau tak apa? Tanganmu terluka!"
Si Bungsu               : "Aku baik-baik saja"
Raja                                    : (berlari menghampiri si Bungsu)
"Ada apa ini? Anakku, kenapa engkau? Kau baik-baik saja"
Si Sulung                : (berdiri dan perlahan berjalan menjauhi mereka)
Si Sulung mulai berjalan menjauhi Panji dan si Bungsu. Ia pun berhenti dan menengok ke arah mereka. Lalu tiba-tiba sang raksasa bangkit dan mengambil pedang Panji. Ia lalu berlari dan hendak menusuk Panji dari belakang.
Si Sulung                : (berteriak sambil berlari)
"Panjiii!!"
Raksasa Merah       : (menusuk perut si Sulung)
Si Sulung                : (terjatuh)
Panji                        : "Sulung!"
Raja                                    : "Anakku!"
(marah)
"Kau.. Dasar Raksasa jahanam! Dendammu adalah aku! Bukan anakku!
Sang Raja mengambil pedangnya dan menusukkan pedangnya ke Raksasa dengan penuh amarah. Raksasa yang sudah tak punya ternaga lagi akhirnya tidak berkutik dan kalah.
Raksasa Merah       : (terjatuh telentang)
Si Sulung                : (menarik pedang di perutnya)
"Kuharap dendammu selesai sampai disini"
(menusuk pedang ke mata raksasa)
Raksasa Merah       : (berteriak kesakitan)
Biji bola mata raksasa pun hancur berkeping-keping. Sulung pun langsung terjatuh. Lalu Panji dan si Bungsu langsung berlari menghampirinya.
Panji                        : (menghampiri si Sulung)
"Sulung, ku mohon bertahanlah! Ku mohon!"
Si Bungsu               : (menangis)
"Kak, bertahanlah.. Maafkan aku kak. Bertahanlah kak, ku mohon!"
Si Sulung                : (menggenggam tangan Panji dan si Bungsu)
"Panji.. tolong jaga adikku. Bahagiakan lah dia"
(meletakkan tangan Panji diatas tangan si Bungsu)
"Aku menyayangi kalian berdua.."
(tersenyum dan menutup mata)
Panji                        : (berteriak)
"Sulung! Suluuungg!"
Si Bungsu               : (menangis)
"Kakaaakk! Jangan pergi..."
Akhirnya si Sulung pun menutup mata. Darah dari si sulung menggenangi kepingan-kepingan bola mata sang raksasa. Dewa-dewa yang melihatnya pun merasa iba. Akhirnya tumbuhlah sebuah buah yang kemerahan dari darah si Sulung dan biji mata sang Raksasa Merah. Buah itu terasa asam-manis seperti kisah kehidupan si Sulung. Buah itu kini dikenal dengan "Delima Merah".